:into minimalism : less is MORE

Tiga Buah Gorengan dan Kopi Hangat

Macet, memang sudah jadi bagian tak terpisahkan dari gerak hidup kota hujan. Hampir tiap sudut kota yang sudah 15 tahun kutinggali, kini sudah bukan jadi barang aneh lagi. Satu tempat yang hampir pasti terjadi kemacetan adalah Jalan menuju Pasar Anyar melalui jalan antara Hotel Salak dan Kejaksaan (baca: Jalan Juanda).

Siang ini satu pelajaran berharga lagi kudapat, hikmah dari kemacetan jalan tersebut.

Sudah lebih dari enam bulan secara rutin jalan itu aku lalui. Bunyi klakson segala jenis kendaraan, bercampur asap yang mengepul dari knalpot mesin-mesin yang harusnya mendapat perawatan layak seperti tidak diperhatikan oleh pemiliknya. Mungkin saja mobil-mobil box itu memang tak pernah berhenti bekerja dan tidak boleh berhenti bekerja.

Tujuanku sederhana, mencari pakan hobi baru yang kutekuni, merawat dan beternak ikan cupang hias (Betta splendens). Sejauh pengetahuanku, hanya di pojok ikan hias di pasar anyar yang bisa siap menyediakan kebutuhan, terlebih tempat tersebut dekat dengan kantor tempat aku beraktifitas. Jadi bisa kulakukan dalam waktu senggang bila tidak terlalu tenggelam dalam kerjaanku.

Di sudut jalan yang sama itu, masih dengan perilaku yang sama. Klakson tak henti dibunyikan, panjang antrian rupa-rupa mobil sampai pada ujung jalan depan Borobudur. Kuacuhkan semua bunyi bising itu, sambil ku susuri sisi jalan yang masih bisa ditempuh dengan rossoneri kecilku. Hampir tak ada perubahan dan pergerakan mobil berarti sampai persimpangan belakang Hotel Salak. Umpatan keras dari sebuah mobil pengangkut sendal mengagetkanku.

“Beh, buru pinggirkeun eta barang butut geura !!!, bikin macet wae, geus kolot teu meunang diuntung !!!” “Beh, cepat kepinggirkan barang butut itu segera” ujar supir berkulit hitam dengan kasar becak geus dilarang masih keneh dibawa wae, untung teu di hajar ku urang, beca jeung nu narik sarua bututna oge !!! becak sudah dilarang masih saja dibawa, untung saya tidak tabrak, becak dengan yang narik sama-sama bututnya

Kulihat di depan mataku, tampak seorang bapak tua tengah kesusahan turun dari becak tunggangannya, kakinya tersangkut pada saddle. Becak yang menafkahi hidupnya selama lebih dari usiaku sekarang. Kuperkirakan usianya mungkin sudah lebih dari 60 tahun, terlihat dari deretan rambut putih yang menghiasi kepalanya. Tak lama ada dua orang yang datang membantu menurunkan Pak Sabar (sebut saja namanya demikian). Satu orang mendorong becak ke pinggir jalan, satu lagi membantu memapah Pak Sabar ke warung kopi di dekat situ. Tampak dimataku betapa sulit Pak Sabar untuk berjalan, terpincang-pincang ke sisi jalan.

Jalan kembali normal berangsur-angsur, mataku tak kulepaskan dari Pak Sabar. di warung itu tampak si teteh menyajikan kopi pahit. Sambil duduk, pak sabar memijat-mijat kaki kanannya. “something wrong with him” kataku dalam hati. Mukanya meringis, peluh disekujur wajah dan tubuhnya pun tak diindahkan.

Segera ku belokkan rossoneri masuk ke parkiran hotel. Di warung kopi itu masih ada Pak Sabar, Becak yang dikendarainya sudah mojok, satu rodanya dimasukkan ke dalam selokan (20 meter dari warung), hingga tak mengganggu jalan. Aku sengaja duduk disebelahnya, tanpa berkata kusodorkan balsem gosok yang sengaja kubeli dari warung dekat situ. Pak Sabar tidak menolaknya, segera ia balurkan balsem ke seluruh kakinya. Badannya gemetar.

“bu, bade nambut kopi… kenteul, ulah amis teuing nya” (bu, pesan kopi, kental, jangan manis sekali ya) ujarku. Kutawarkan pak Sabar, “ngopi teu?” (mau kopi?) sambil tak acuh. Padahal tadi pagi aku sudah ngopi di rumah.

Pak Sabar cuma mengangguk kecil. Sambil menunggu si teteh menyajikan kopi, iseng kutanya Pak Sabar. “Kunaon beh, kakina. Tadi teh ningali, hese’ nya turun ti becak”(kakinya kenapa, kelihatannya tadi sulit untuk turun ya) tanyaku datar.

“ah, biasa jang… kaki geus ilu kolot jeung urang mah keiu… sok ngadat, kram” (ah biasa, kaki ini udah ikut-ikutan tua kayak saya, suka ngadat, kram). Sahut pak Sabar.

Kulihat si teteh juga menyajikan aneka gorengan, masih hangat-hangat rupanya. Kuminta Piring, dan mencomot gorengan-gorengan menggiurkan itu. Kuletakkan antara aku dan pak Sabar. “Hayu pak, sambil ngantosan kopina. Ragu, dan gorengan itu tak digubris. Walaupun akhirnya diambil pisang goreng yang masih hangat itu.

Selesai membalur kakinya, disodorkan kembali balsem yang tadi. “simpen wae pak, bisi kram deui tos aya persiapan”. (simpan aja, siapa tau butuh). Pak sabar berjalan ke tempat becaknya tergeletak, ditaruhnya balsem dalam sebuah kantong plastik lusuh, entah sudah berapa lapis plastik itu. Jalannya masih tertatih.

“Kasian, si bapak teh. Tos tinggal duaan hungkul sareung pamajikana, tah di pojok dinya” (sekarang bapak hanya tinggal berdua bersama istrinya) tiba-tiba si teteh nyeletuk. Kulihat arah yang ditunjuk, hanya ada rumah besar tua berpagar seng tak terurus. “eta imah tos lami kosong, ceuk orang mah, nu bogana dipenjara, kasus penipuan, kaluargana malu terus pindah. Ayeuna eta imah dipake paranti tukang asongan, kuli, jeung tukang becak”. Setahuku rumah itu memang lama tidak dihuni, tidak ada listrik, hanya segel dari pengadilan di pagar seng yang mengelilingi rumah. Ternyata masih ada yang memanfaatkannya. “lamun cai mah, kabeh ka stasiun atanapi ka masjid” (kalau untuk mandi dll, semuanya ke stasiun atau ke mesjid).

Ku lirikkan mata sesekali ke pak Sabar yang sedang merapihkan dan melap becak tua kesayangannya

“Sigana si bapak can meunang tumpangan ti isuk, lamun geus mah, manehna sok meseun dahar didieu… paranti didahar manehna jeung pamajikanna. Baheula mah pamajikanana gawe kuli cuci piring, ayeuna sok geuring, jadina ngan pak sabar hungkul nu gawe. Anak-anakna geus beunghar sadaya, can pernah kapanggih sih, geus hilap meureun gaduh kolot” urai si teteh. “lamun telat dahar sok kram kitu tah, geus dibejakeun ulah maksakeun narik, sok hese’ jang” tambahnya. ”baheula mah narik ngeunah, seu’eur meunangna. Jelma teh lewuih milih naek becak atanapi delman tinimbang angkot. Ayeuna mah, haduuuh”

(kayaknya si bapak belum dapet tumpangan dari pagi, sebab biasanya jam segini dia sudah pesan makan satu bungkus untuk dia dan istri. Dulu istrinya membantu mencuci piring disini, tapi semenjak sering sakit-sakitan, cuma pak sabar yang bekerja. Anak-anaknya menurut cerita sudah pada berhasil, saya juga gak pernah lihat, sudah lupa mungkin sama orang tuanya)….(kalau telat makan si bapak memang suka kram, sudah sering diberitahu untuk tidak memaksakan narik becak, tapi susah)… (Dulu enak narik becak, suka dapat banyak. Orang lebih suka naek becak atau delman dibanding angkot. Sekarang, boro-boro)

Aku tak mau berlama-lama, gak kuat untuk mendengarkan cerita teteh tentang pak sabar. Segera kuhabiskan kopiku, “bu berapa semua?”. Sambil berbisik aku bilang “nanti sekalian ya bungkuskan gorengannya untuk babeh dan istrinya, jangan lupa juga bungkusin nasi 2, sedapetnya nya teh”. Kukeluarkan selembar uang dari kantongku, mudah-mudahan cukup.

Masih banyak orang-orang seperti Pak Sabar di negeri ini. Segera kutelpon rumah, Cuma untuk memastikan bapak di rumah baik-baik saja.

Pojok Bogor, 10 Maret 2010

From my old frends Nino



3 responses to “Tiga Buah Gorengan dan Kopi Hangat”

  1. nino says:

    semoga bisa menular

  2. panjaaaang om.. tapi emang kisahnya .. luar biasa.. :sip:

  3. Biand Purbiantoro says:

    Benar , Masih banyak orang-orang seperti Pak Sabar di negeri ini…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Subscribe: rss | twitter | +