:into minimalism : less is MORE

kebutuhan manusia itu terbatas

Ketika ingin berbuka puasa saya  pasti kepengennya banyaak banget buat bukaan tapi sebenernya kebutuhan perut ini  sangat terbatas . Buktinya pas magrib saya cukup minum teh manis atau air putih dan makan makanan ringan 2 kurma saja glek setelah masuk tenggorokan  sudah cukup, bener kan ya ? ya paling nambah makanan kecil seperti risol satu atau gorengan satu, perut ini sudah terasa gak laper lagi.

Namun karena laper mata,  lanjut lagi es kelapa, nambah lontong, gorengan atau bisa jadi langsung makan nasi sangking emosinya 🙂

Bener kata pepatah ” your eyes is bigger than your stomach ” mata kita lebih besar daripada perut kita.Lebih sering kita sebut laper mata.

Mau itu soal perut ataupun soal belanja apalagi 🙂 terkadang kita tidak bisa membedakan mana yang kebutuhan mana yang keinginan. Kalau bicara keinginan pasti tidak ada batasannya.

Kata Mahatma Ghandi “dunia ini cukup untuk semua orang, namun tidak cukup untuk satu orang yang serakah”

Kebutuhan manusia ini sesungguhnya sangat terbatas, namun berkat iklan2, branding perusahaan2 yang mempromosikan produknya ke masyarakat dengan planning yang manteb baik TV, billboard, banner, radio, internet, social media dan sebagainya. Dan jadilah yang tadinya barang2 yang semestinya tidak kita butuhkan menjadi seakan akan penting, perlu !

Namun saya akui jika dari sisi teknologi ada beberapa yang meng-empower kehidupan kita dalam segi efisiensi waktu dalam pekerjaan. Namun juga terkadang saya lihat menjadi terlalu lebay, gampangnya pernah saya meeting ada orang yang membawa mac book, ipad, + blackberry heheh..ini kok teknologi bukannya make it simple jadi  make it ribet 🙂

Kalau saya cukup pake blackberry saja dan menggunakan feature notepad di BB untuk mencatat point2 dari meeting yang mana kebutuhannya dari meeting adalah tercatat.

Dari sisi makanan sebenernya badan kita ini sudah dikaruniai sensor2 canggih yang memberi sinyal apakah badan kita ini perlu sesuatu atau tidak,  jadi sensornya bukan dari mata atau berdasarkan keinginan saja.

Contoh jika saya lapar ( laper perut bukan laper mata )  pasti saya akan mencari makan , namun jika melihat makanan yang menggiurkan, saya coba contact dengan perut saya apakah masih lapar atau tidak, pasti taulah kalo rasanya laper mata atau laper beneran.Jika dirasa perut sudah cukup terisi,  yaaa tidak usah makan lagi dan ini butuh ekstra latihan dan tenaga untuk menahan emosi *Pengalaman pribadi 🙂

Cukup dan bersyukurlah dengan apa yang sudah kita punya namun jangan pernah puas dengan apa yang sudah kita capai.

Bersyukur dengan apa yang sudah kita raih namun hanya pengen lebih..

Sukses kaitannya dengan jumlah namun kebahagiaan kaitannya dengan bersyukur dan bersabar dengan apapun yang sudah kita punya saat ini yak saat ini juga detik ini

Life is about balance 🙂

udet

 

 

 

 



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Subscribe: rss | twitter | +